Rabu, 20 Juni 2018  
 
Marhaenisme

Redaksi | Nasional
Senin, 06 November 2017 - 08:34:22 WIB
oleh : M. Dawam Rahardjo (Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta)

Tiraskita.com - Marhaenisme sebenarnya telah muncul kembali melalui sebuah partai politik peserta pemilihan umum: Partai Nasional Indonesia (PNI)-Front Marhaen. Tapi hal itu belum menjadi persoalan, sampai Presiden B.J. Habibie berbicara tentang bahaya "Komas", singkatan dari komunisme, marhaenisme, dan sosialisme. Di situ, marhaenisme tidak saja dikaitkan dengan sosialisme, tetapi juga komunisme. Karena itulah Prof. Ismail Suny mengingatkan kembali rumusan marhaenisme menurut penemunya, Soekarno. Rumusan itu menyebutkan bahwa "Marhaenisme adalah sosialisme yang diterapkan menurut kondisi Indonesia."

Ternyata, marhaenisme juga tercantum dalam Dictionary of the Modern Politics of South-East Asia (1995), karya Michael Laifer. Di situ dinyatakan bahwa marhaenisme diperhatikan kembali sebagai ideologi politik karena pidato Presiden Soekarno di Bandung, pada 3 Juli 1957. Sedangkan Ensiklopedi Indonesia menyebutkan bahwa marhaenisme adalah ideologi yang dikembangkan oleh Ir. Soekarno sebagai ideologi PNI-Lama (1927-1931) dan kemudian ditetapkan sebagai asas resmi PNI dalam manifes Kongres PNI ke-6 di Surabaya, pada 1952.

Ensiklopedi Indonesia tidak menyebutkan adanya kaitan antara marhaenisme dan marxisme. Tapi dalam ensiklopedi karya Laifer itu, marhaenisme disebut sebagai salah satu varian marxisme. Dan yang lebih menarik bahwa di samping varian, marhaenisme juga merupakan alternatif terhadap marxisme. Dalam interpretasi itu terkandung adanya penolakan, paling tidak kritik terhadap marxisme. Pada 1945, Bung Karno "menggali" Pancasila sebagai ideologi politik. Dalam Pancasila, Bung Karno juga sekaligus menolak komunisme dan kapitalisme serta mentransendensikan (hogeroptrecking) dua ideologi menjadi sebuah ideologi alternatif. Dua versi gagasan itu bukannya tidak membingungkan, tetapi kebingungan itu dipecahkan oleh para pengikutnya dengan mengidentikkan marhaenisme dengan Pancasila.

Identifikasi itu sebenarnya logis saja, karena Bung Karno pernah menjelaskan kedua ideologi itu dengan teorinya mengenai trilogi: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dasar pemikirannya adalah secara sosiologis teori mengenai proletariat yang dikembangkan oleh Marx tidak cocok untuk kondisi Indonesia. Kehadiran kaum proletar di Indonesia tidak menonjol. Di negeri ini yang paling banyak adalah "rakyat kecil" yang disebutnya kaum Marhaen. Jika proletar adalah kelas yang tidak punya hak milik (unpropertied class), kaum Marhaen adalah kelas yang masih punya hak milik (propertied class), tetapi serba sedikit, akibat eksploitasi kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.

Teori Bung Karno itu cukup sahih. Sebenarnya marhaenisme mirip dengan maoisme. Baik Soekarno maupun Mao Ze Dong mengkritik marxisme. Keduanya memandang masyarakat mereka sebagai masyarakat kaum petani. Karena itu penyadaran kaum tani sebagai kelas proletar adalah keliru. Kekeliruan inilah yang terjadi pada Partai Komunis Indonesia, yang mendasarkan diri pada perjuangan kelas serta berbasis dan dipimpin oleh kelas proletar. Padahal, proses industrialisasi belum terjadi di Indonesia. Karena itu, kelas buruh, apalagi yang memiliki kesadaran kelas, belum nyata kehadirannya.

Marhaenisme, sebagaimana dikatakan oleh Laifer, adalah sebuah ideologi alternatif. Dengan teori sosio-nasionalisme, marhaenisme adalah sebuah aliran kebangsaan berdasarkan kondisi empiris masyarakat Indonesia, yang bukan saja terdiri dari kaum petani, tetapi juga merupakan gambaran dari masyarakat multietnis dan multibudaya. Dengan teori sosio-demokrasi, marhaenisme bukan saja menyatakan dirinya sebagai suatu jenis sosialisme, tetapi sosialisme yang juga menganut demokrasi. Boleh dikatakan, marhaenisme adalah interpretasi orang Indonesia mengenai paham sosialisme-demokrasi. Lagi pula, sosialisme ala Indonesia itu bukan hanya marxisme, tetapi juga, menurut Bung Hatta, merujuk pada ajaran Islam dan nilai-nilai tradisional Indonesia. Dan yang terpenting adalah marhenisme menolak ateisme, karena, menurut Bung Karno, marhaenisme itu mendasarkan diri pada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dewasa ini, di tingkat global, terdapat dua ideologi yang dominan dan bersaing, tetapi menimbulkan kesan yang berbeda. Di satu pihak ada kesan kuat bahwa ideologi kapitalisme-demokrasi yang "menang", terbukti dari proses liberalisasi perekonomian dunia. Tapi kenyataan lain juga menunjukkan bahwa partai politik yang memerintah di negara-negara industri maju ternyata adalah partai yang berhaluan sosialisme-demokrasi. Sebagaimana di Indonesia, kebijakan politik cenderung liberal, tetapi yang menang dalam pemilu adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan yang mempunyai citra kerakyatan dan partai wong cilik.

Kini, memang belum jelas apa sebenarnya dasar ideologis PDI Perjuangan. Cuma, PDI Perjuangan berpotensi besar untuk mengembangkan ideologi sosialisme-demokrasi, mengingat komponen politik partai ini adalah Partai Nasional Indonesia dan Megawati adalah putri Bung Karno.

Kehadiran marhaenisme pantas dicatat dalam sejarah pemikiran sebagai suatu ide besar dari Soekarno. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Juwono Sudarsono, sendiri mengatakan bahwa marhenisme cukup sah sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Cuma, marhaenisme tidak memiliki pemikir yang mengembangkannya lebih lanjut sebagai teori sosial. Tidak seperti pemikiran Hatta yang masih dikembangkan oleh Mubyarto, Sri Edi Swasono, dan Sritua Arief.

Dengan terbitnya buku The Third Way-karya Anthony Giddens, sosiolog besar abad ini-yang menjadi ideologi Tony Blair, Perdana Menteri Inggris, marhaenisme merupakan pemikiran yang paling potensial mendekati gagasan dalam The Third Way. Barangkali marhaenisme digabung dengan pemikiran Hatta bisa menjadi sebuah konsep semacam The Third Way yang menjelaskan Pancasila sebagai ideologi alternatif yang bercorak sosialisme-demokrasi.



*) Pernah dimuat di Majalah TEMPO, No. 18/XXVIII, 4-11 Juli 1999

comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Wanita Anggota DPRD dari PKS Selingkuh dengan Anggota Fraksi PKB, Ini Pengakuannya
  • Gereja di Pekanbaru Ditutup Paksa oleh Kelompok Intoleran
  • Tanpa Mahar, DPD Partai NasDem Kabupaten Nias Buka Pendaftaran Bacaleg
  • Wanita ini Dipaksa Melayani Nafsu Seksual Polisi Bringas di Dalam Mobil
  • Berkunjung ke Nias, Edy Rahmayadi Himbau Masyarakat Sumut Melawan Fitnah
  • Panglima TNI dan Kapolri Terima Bintang Kehormatan
  • Dihadiri Wabub, Musda LAMR Kuansing Lancar, Sri Abrinal Jadi Ketua MKA
  • Bersumber Dari DD, Pembangunan Pagar PAUD TA 2017 di Desa Limau Manis Mangkrak
  • Polisi Gagalkan Penyelundupan Minyak Tanah Bersubsidi di Pelabuhan Angin Gunungsitoli
  •  
    Minggu, 22 Januari 2017 - 19:32:58 WIB
    Bupati Terus Pantau Pelaksanaan OPD di Pemkab Nias Barat
    Kamis, 22 Juni 2017 - 18:53:55 WIB
    Ultah Ke-56, Jokowi Dapat Ucapan dari Warga
    Selasa, 20 Juni 2017 - 00:23:01 WIB
    Terungkap, Bulog Gunungsitoli Salurkan Beras Tidak Layak Konsumsi Adalah Fakta
    Jumat, 03 Februari 2017 - 13:53:35 WIB
    Dugaan Korupsi Pembangunan RKB SDN Siforoasi Bawolato
    Anggota DPRD Nias: Jika Kepala Sekolah Terbukti Korupsi, Baiknya Dipenjarakan Saja
    Minggu, 01 Januari 2017 - 23:34:29 WIB
    Mulai Tahun 2017 Tarif Pengurusan STNK dan BPKB Naik 3 Kali Lipat
    Rabu, 14 Juni 2017 - 15:18:09 WIB
    Della/Rosyita Tantang Unggulan China di Babak Kedua
    Jumat, 27 April 2018 - 23:47:20 WIB
    Wanita ini Dipaksa Melayani Nafsu Seksual Polisi Bringas di Dalam Mobil
    Kamis, 04 Mei 2017 - 12:34:21 WIB
    Dr. Benny Pasaribu: Ekonomi Indonesia Tumbuh Tertinggi Ke – 3 diantara Negara G20
    Sabtu, 11 Maret 2017 - 10:16:11 WIB
    GM PLN Diganti, Gubsu T. Erry Terus Dorong PLN Penuhi Kebutuhan Listrik Masyarakat Sumut
    Sabtu, 21 Januari 2017 - 21:05:33 WIB
    Polisi Tewas Saat Bertemu Informan Jual-Beli Sabu di Jakarta
    Jumat, 24 Februari 2017 - 00:13:29 WIB
    Wabup Nias Laksanakan Sertijab Camat Botomuzoi
    Selasa, 30 Mei 2017 - 16:06:57 WIB
    Wakil Bupati Nias Sebutkan Jokowi Berkomitmen Lakukan Pemeretaan Pembangunan
    Sabtu, 16 September 2017 - 17:40:28 WIB
    Pernikahan Putri Jokowi Bakal Digelar November
    Senin, 23 Januari 2017 - 00:41:43 WIB
    Gubernur Sumut Apresiasi Harian Waspada
    Kamis, 22 Juni 2017 - 19:01:18 WIB
    Presiden Jokowi Hari Ini Berulang Tahun dengan Kunjungan Kerja
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
    Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved