Minggu, 21 April 2019  
 
Krisis Ekonomi dan Pemimpin Yang Berkarakter di Pulau Nias

Restanti Waruwu | Tiraskitana
Minggu, 11 Juni 2017 - 14:19:36 WIB
Kepulauan Nias, Tiraskita.com.
Ditulis oleh: Yusadar Waruwu, S.Pd. (Ketua DPC Partai NasDem, Kecamatan Somolo-Molo, Kabupaten Nias)

Pemimpin yang Berkarakter
Sejak lama saya perhatikan banyak gejolak yang semakin besar dan semakin sulit di atasi. Kondisi Masyarakat yang hidup di sebuah Pulau bagian Barat Indonesia ini semakin mengalami krisis yang hebat dan semakin berkepanjangan.

Pulau Nias, sebuah Pulau kecil dan mempesona. Keindahan, serta kekayaan alam nya seharusnya mampu memberikan sebuah harapan yang cemerlang bagi masyarakat nya untuk memiliki kehidupan yang layak disebut "Merdeka".

Namun kondisinya jauh sangat berbeda dengan kondisi yang seharusnya dapat kita bayangkan, Pulau Nias yang menyimpan banyak kekayaan alam dan SDM yang semakin tinggi jusru tidak menjamin kesejahteraan bagi masyarakat. Krisis kini menggerogoti masyarakat Pulau Nias.

Dengan krisis yang semakin akut, terutama krisis politik dan ekonomi, Masyarakat Pulau Nias ini terseok-seok menatap masa depan. Krisis ekonomi telah terbukti banyak melahirkan keresahan sosial baru.

Untuk menuntaskan krisis politik dan ekonomi ini,
akar-akar penyebabnya haruslah segera dikikis habis. Oleh karena itu,
dalam menata kehidupan demokrasi yang matang, segenap warga masyarakat
diharapkan memilih pemimpin yang signifikan.

Memilih pemimpin yang kuat dan sekilas tampak tegas saja juga bukan
bentuk penyelesaian yang terbaik. Pemimpin yang hanya menjadi solidarity maker
juga bukanlah pemimpin yang efektif. Apalagi pemimpin yang hanya
terkenal sebagai tipe administrator yang berwatak birokratis. Dalam
keadaan yang tidak normal ini, pemimpin dengan kualitas prima saja lah yang
kita butuhkan, yaitu pemimpin yang berkarakter dan memiliki integritas
serta memiliki visi yang jelas dalam menyelesaikan segala permasalahan
bangsa.

Di masa depan, persoalan kita sudah sangat berbeda, dan untuk
menghadapinya dibutuhkan tipe kepemimpinan yang juga berbeda. Cepat atau
lambat, masyarakat kita akan semakin kritis dan mulai mengerti
hak-haknya. Mereka tidak ingin hanya menjadi obyek yang terus menerus
diatur oleh pemimpin mereka. Pemimpin saat ini juga diharapkan mampu
membuat inovasi kebijakan yang berani dan berdampak jauh serta mampu
menghadapi persoalan ekonomi yang baru, seperti tuntutan pemerataan dan
keadilan.

Untuk itu, Pulau Nias ini membutuhkan pemimpin berkarakter, baik di tingkat kepala daerah,
dan legislatif,  karena pemimpin bangsa pada dasarnya berada di
seluruh sektor kekuasaan yang berada dalam sebuah sistem, dan memiliki kewenangan atau kekuasaan, sehingga nasib masyarakat atau bangsa ini tidak hanya terletak pada
presiden dan wakil presiden saja.

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari
proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri
seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah
kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika
seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian
dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang
kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh
kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam
organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin
sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan
dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri
seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Seorang pemimpin harus berkarakter, punya kredibilitas, menjadi
inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan. Pemimpin
berkarakter sudah barang tentu bukan sosok karbitan atau yang hanya
mengandalkan pengalaman jabatan, jam terbang politik, dan deretan
panjang aktivitas kemasyarakatan, tanpa catatan prestasi yang jelas
dalam semua kiprahnya itu. Pemimpin berkarakter adalah pemimpin yang
mampu membuat skenario masa depan bagi rakyat dan memperjuangkan
skenario itu dengan melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan dan
masyarakatnya dengan bertopang pada nilai-nilai masyarakatnya sendiri.

Di samping berkarakter pemimpin juga diharapkan memiliki
kredibilitas. Ini menyangkut komitmen, integritas, kejujuran,
konsistensi dan keberanian seorang pemimpin untuk bertanggung jawab atas
pilihannya. Bukan jenis pemimpin dengan mental tempe, selalu ragu-ragu
dan serba lambat mengambil keputusan di antara sekian banyak pilihan
yang memang mustahil sempurna. Pemimpin yang kredibilitasnya mumpuni,
sejak semula diberi amanah siap mempertanggungjawabkan kegagalan tanpa
mencari kambing belang. Ia lebih suka mencari apa yang keliru untuk
diperbaiki ketimbang mencari siapa yang patut disalahkan. Kredibilitas
juga mengandung pengertian adanya ketenangan batin seorang pemimpin
untuk memberikan reaksi yang tepat terutama dalam kedaaan kritis. Selain
tentu, saja kredibilitas juga menyangkut aspek kecakapan dan
ketrampilan teknis memimpin.

Pemimpin berkarakter juga menjadi inspirasi keteladanan. Boleh jadi
ini aspek kepemimpinan yang terpenting dan sekaligus teramat sulit untuk
kita temukan kini. Banyak pemimpin di negeri ini yang gagal menjadi
sumber inspirasi keteladanan. Mereka tidak sanggup berdiri di barisan
terdepan dalam memberi teladan dari dirinya dan lingkungan kekuasaannya
yang terdekatnya. Pemimpin yang inspiratif, semestinya sanggup secara
otentik menunjukkan ketulusan satunya ucapan dengan tindakan, satunya
seruan dengan pelaksanaan, satunya tekad dengan perbuatan. Orang Jepang
menyebut sikap otentik ini dengan istliah "makoto", artinya
sungguh-sunggguh, tanpa kepura-puraan.

Nurcholis Madjid menyebut
pemimpin seperti ini sebagai lambang harapan bersama, sumber kesadaran
arah (sense of direction) dan sumber kesadaran tujuan (sense of purpose).
Dengan demikian Keempat, menumbuhkan harapan. Kita tahu tingkat
kepercayaan rakyat terhadap pemerintah saat ini begitu rendah.
Pemerintah seperti kehilangan daya, alih-alih mampu menggugah dan
menggerakkan rakyatnya, bahkan niat baik pemerintah pun acapkali
disalahpahami oleh rakyatnya sendiri. Pemimpin yang memberi harapan
adalah pemimpin mampu menjadikan harapan rakyatnya sebagai roh
kepemimpinannya. Tidak sebaliknya, secara egois menjadikan harapannya
seolah-olah sebagai harapan rakyatnya.

Pemimpin berkarakter adalah yang memiliki keunggulan khas, dapat
diandalkan, dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan.
Selain keunggulan spesifiknya pada sisi inteligensia, pemimpin yang
berkarakter juga dituntut untuk menguasai moral capital yang
kuat
. Moral dalam arti ini adalah kekuatan dan kualitas komitmen para
pemimpin dalam memperjuangkan nilai-nilai, keyakinan, tujuan, dan amanat
penderitaan rakyat. Kapital di sini bukan sekadar potensi kebajikan
seseorang, melainkan potensi yang secara aktual menggerakkan roda
politik. Dengan begitu, yang dikehendaki bukan sekedar kualitas moral
individual, namun juga kemampuan politik untuk menginvestasikan potensi
kebajikan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa
mempengaruhi perilaku masyarakat.

Untuk menghadapi kecenderungan dan persoalan baru yang dihadapi ke depan, dibutuhkan tipe kepemimpinan yang
berkarakter. Pemimpin yang berkarakter adalah seseorang yang
mengerti bahwa untuk menggerakkan masyarakat dalam mencapai tujuan
tertentu (stabilitas politik, persatuan bangsa, pertumbuhan ekonomi),
yang pertama harus dilakukan adalah merebut hati dan membangkitkan
simpati masyarakat terhadap tujuan tersebut.

Pemimpin berkarater mengelola pembangunan sebagai proses
pembentukan nilai yang berkesinambungan, bukan hanya sekadar berkuasa
untuk lima tahunan. Tanpa semua itu pemimpin akan gagal mengajak
rakyatnya untuk bergerak (moving the people) atau Restorasi untuk mengatasi
carut-marut keadaan. Rakyat yang engan diajak bergerak menjemput
perubahan adalah pertanda gagalnya kepemimpinan. Di sana tidak muncul
pemimpin berkarakter kuat, punya kredibilitas terjaga, sanggup menjadi
inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan.

Pembentukan karakter seseorang pemimpin pada dasarnya menjadi
tanggung jawab semua pihak dan warga masyarakat. Oleh karena itu seluruh
komponen lembaga kepemerintahan di Pulau Nias bersama rakyat wajib
menyediakan persemaian yang subur untuk pengembangan  kaderisasi dan
regenerasi kepemimpinan pemimpin yang berkarakter. Untuk itu, instusi
demokrasi yang telah menjadi ketetapan seluruh masyarakat harus dijaga
dan disusun berdasarkan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan
negara yang adil untuk mencapai kesejahteraan bersama, sebab
kepemimpinan yang berkarakter dapat menjaga pembangunan suatu daerah yang
lebih kuat.



(Tim)


comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • PMKRI Ajak Milenial Ambil Bagian dalam Pemilu 2019
  • PT. Riau Melayu Makmur Diduga Abaikan Syarat Pertamina, YLPK Inhil Akan Laporkan
  • Indonesia Menangkan Arbitrase , Ini Penjelasan Menteri Yasonna Laoly
  • Pengembangan Landasan Pacu Bandara Binaka Nias Terbengkalai
  • Diduga Kelainan Jiwa, Seorang Ayah Ditikam Anak Kandung Hingga tewas
  • Jajaran Polda Banten Tak Henti Berbagi kepada Masyarakat
  • Komitmen Berantas Narkoba, GRANAT Inhil Kunjungi Imigrasi Inhil
  • Bupati Kampar Lantik Pejabat Eselon 4 dan 3
  • Kali Ini Terduga Teroris Wanita Ditangkap
  •  
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
    Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved