Selasa, 17 Juli 2018  
 
Lecehkan Napi Wanita, Kalapas Klas IIA Bukittinggi Dinonaktifkan

Wahyu Sikumbang | Hukrim
Selasa, 28 Februari 2017 - 00:16:33 WIB
Kalapas Klas II A Bukittinggi Lisabetha Hardiarto, dinonaktifkan dari jabatannya karena terbukti dengan sengaja melakukan tindak pelecehan seksual terhadap tahanan wanita
TERKAIT:
BUKITTINGGI, Tiraskita.com  - Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas)
Klas IIA Bukittinggi, akhirnya dinonaktifkan dari jabatannya. Dari hasil
investigasi tim Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkumham Sumatera Barat,
Kalapas Lisabetha Hardiarto terbukti dengan sengaja melakukan tindak
pelecehan seksual terhadap tahanan wanita.

Kepala Kanwil
Kemenkumham Sumbar, Dwi Prasetyo Santoso di Padang, menyebutkan,
terhitung sejak satu hari usai kejadian Jumat (24/2/2017), yang
bersangkutan telah dinonaktifkan. Tugas Kalapas Bukittinggi digantikan
oleh Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) Rivan
menjadi pelaksana tugas.

Menurut Dwi, dari hasil investigasi tim
Kanwil, Kalapas Klas II Bukittinggi Lisabetha Hardiarto terbukti dengan
sengaja melakukan tindak pelecehan seksual terhadap tahanan wanita
bernama Vani (18 tahun).

Tim investigasi juga menemukan bahwa pelecehan dilakukan dengan
terencana oleh pelaku terhadap korban. Indikasi ini berdasarkan tindakan
Kalapas yang menjadikan Vani sebagai tahanan pendamping (tamping) dan
ini melanggar aturan.

Berdasarkan standar operasional prosedur
(SOP) Lapas, Kalapas laki-laki tidak boleh menggunakan tamping
perempuan. Begitu juga sebalinya. SOP ini telah disalahgunakan oleh yang
bersangkutan sebagai Kepala Lapas.

Vani diketahui telah menjadi
tamping bagi Kalapas selama satu bulan. Menurut Dwi, faktor kedekatan
Kalapas dengan korban selama satu bulan dapat menimbulkan hasrat dan
terjadi tindakan pelecehan. Apalagi keluarga yang bersangkutan yang jauh
di Aceh diduga membuat yang bersangkutan kesepian.

Sementara
kronologis terungkapnya kejadian menurut data tim investigasi,
menyebutkan, saat kejadian Kamis siang (23/2/2017) Vani tidak bersedia
membantu Kalapas yang disuruh mencuci peralatan piring dan gelas yang
kotor di ruang Kalapas.

Karena terus diminta, akhirnya Vani
menyanggupi, hingga pelecehan pun terjadi saat dia berada di toilet
dekat ruang Kalapas. Saat itu, Vani tengah jongkok mencuci gelas.
Tiba-tiba pelaku mendekatinya dari belakang.

Vani yang berteriak dan menangis menerima perlakuan tak senonoh dari
pelaku membuat teman-teman satu selnya meradang. Pernyataan Vani ini
juga didengar napi lain hingga seluruh napi yang berjumlah 492 orang ini
protes terhadap tindakan Kalapas.

Aksi protes pun memicu suasana
kericuhan di dalam lapas. Para napi dan tahanan berteriak-teriak sambil
menggedor-gedor teralis besi sel.

Menurut Dwi, perwakilan napi
menuntut tidak ingin lagi Kalapas Lisabetha Hardiarto bertugas di Lapas
Bukittinggi. Jika dipertahankan napi mengancam akan membuat aksi protes
yang lebih besar dari sebelumnya.



(pur)


comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Sekjen NasDem Yakin Cawapres Jokowi Bisa Buat Gempar
  • Alvyman: Pembangunan Infrastuktur Kecamatan Alasa Sangat Minim
  • Wanita Anggota DPRD dari PKS Selingkuh dengan Anggota Fraksi PKB, Ini Pengakuannya
  • Gereja di Pekanbaru Ditutup Paksa oleh Kelompok Intoleran
  • Tanpa Mahar, DPD Partai NasDem Kabupaten Nias Buka Pendaftaran Bacaleg
  • Wanita ini Dipaksa Melayani Nafsu Seksual Polisi Bringas di Dalam Mobil
  • Berkunjung ke Nias, Edy Rahmayadi Himbau Masyarakat Sumut Melawan Fitnah
  • Panglima TNI dan Kapolri Terima Bintang Kehormatan
  • Dihadiri Wabub, Musda LAMR Kuansing Lancar, Sri Abrinal Jadi Ketua MKA
  •  
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
    Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved