Pemilu 2019 tentu berbeda dengan Pemilu 2014. Berbagai perubahan mengharuskan caleg beradaptasi dengan cara kampanyenya dan menyiapkan strategi">
Rabu, 19 Juni 2019  
 
Pasti dukungan anda duduk
Raup Suara Terbanyak Belum Tentu Duduk di Kursi DPR

Redaksi | Politik
Selasa, 09 Oktober 2018 - 12:32:06 WIB
Pemilu 2019 tentu berbeda dengan Pemilu 2014. Berbagai perubahan mengharuskan caleg beradaptasi dengan cara kampanyenya dan menyiapkan strategi pemenangannya lebih matang.

Salah satu syarat mutlaknya adalah, meraih suara mayoritas. Namun, hal itu belum menjamin caleg tersebut berhasil berkantor di kawasan Senayan pada 2019 mendatang.

Status partai, syarat parliamentary threshold, serta beberapa faktor pendukung harus benar-benar disiapkan secara matang oleh para caleg yang bertarung berebut kursi DPR RI.

Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu), yang diparipurnakan pada Juli 2017 lalu, menghasilkan lima poin yang membedakan Pemilu 2019 dengan sebelumnya.

Salah satunya yakni system Parliamentary Threshold (ambang batas parlemen) yang telah diundangkan. Di mana system ini mengatur syarat partai politik lolos ke DPR yaitu memiliki suara sebesar 4 persen di suatu tingkatan wilayah. Batas ambang 4 persen tentunya adalah tantangan sendiri bagi partai kecil atau partai baru yang pertama kali ikut pemilu.

Dari berbagai pengalaman, ambang batas parlemen telah beberapa kali menggagalkan sebuah partai untuk lolos ke Senayan. Seperti contoh, PBB dan PKPI yang gagal ke Senayan setelah suara nasional yang mereka dapatkan tak mencapai 3,5 persen, syarat parliamentary threshold di Pemilu 2014 silam.

Hal ini seringkali membuat caleg DPR partai seperti ini kena apes. Pasalnya, sekalipun caleg mereka juara di suatu daerah pemilihan (dapil), namun karena aturan ambang batas parlemen tadi, membuat partainya tadi tidak boleh masuk ke DPR.

Selain system Parliamentary Threshold, ada juga, metode konvensi suara yang digunakan untuk menentukan caleg terpilih juga berubah. Apabila pada pemilu sebelumnya, KPU menggunakan sistem penghitungan Quote Harre. Namun pada pemilu 2019, KPU akan menggunakan sistem Saint League Murni.

Sistem Quote Harre dikenal dengan istilah bilangan pembagi pemilih (BPP). BPP digunakan untuk menetapkan suara sesuai dengan jumlah suara dibagi dengan jumlah kursi yang ada di suatu dapil. Metode ini cenderung merugikan partai besar dikarenakan hak untuk mendapat kursi secara maksimal harus terlempar pada partai bersuara kecil dikarenakan asas pembagian pemilih tersebut.

Sedangkan metode Saint League Murni, digunakan pada Pemilu 2019 ini, adalah metode penghitungan suara yang menggunakan angka pembagi untuk mengalokasikan kursi yang diperoleh setiap partai politik dalam sebuah dapil. Angka yang digunakan untuk pembagi adalah angka ganjil (1,3,5,7,dst). Jumlah suara yang telah dibagi oleh angka ganjil tersebut akan diperingkatkan dan menentukan siapa saja partai/caleg yang lolos.

Jumlah Perolehan Kursi Partai Politik di DPR RI

Sebanyak 575 kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 14 partai politik yang lolos mengikuti kontestasi pada pemilihan umum 2019.

Jumlah kursi DPR RI pada pemilu 2019 bertambah 15 kursi menjadi 575 dibanding pemilu 2014 sebanyak 560 kursi. Penambahan ini terkait bertambahnya tiga daerah pilih (dapil), yaitu Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Sehingga jumlah dapil pada pemilu tahun depan menjadi 80 dapil dari sebelumnya hanya 77 dapil.***

comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Panglima Kodam I/ BB, Buka Secara Resmi Latihan Pratugas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132 Bang
  • YARA Himbau Napi yang Lari untuk Kembali
  • Permasalahan Rekrutmen Sekdes Banua Sibohou II di Alasa Sudah Diselesaikan
  • Ini Daftar Game Online Yang Dapat Merusak Masa Depan Anak
  • PDI Perjuangan Percepat Kongres V , Ini Alasannya
  • 20 % Wajib Untuk Masyarakat Sekitar HGU
  • Ini Penjelasan Menkumham Pada Komisi III DPR RI
  • Politisi Muda NasDem Prihatin Pembangunan Kabupaten Nias Sangat Lamban
  • Penjaringan Sekertaris Desa Banua Sibohou II Diduga Tidak Sesuai Prosedur
  •  
    Rabu, 14 Juni 2017 - 15:26:26 WIB
    Lagi-Lagi, Bupati Nias Pimpin Forkada Kepulauan Nias
    Selasa, 30 Mei 2017 - 20:32:22 WIB
    TNI AL Tangkap Kapal Pencuri Ikan Berbendera Vietnam di Laut Natuna
    Selasa, 23 April 2019 - 18:37:15 WIB
    Truk Bermuatan Minuman Luar Negeri terbalik di Batu Ampar, Puluhan Dus Diamankan, Supir Kabur!
    Minggu, 02 Juli 2017 - 15:35:29 WIB
    Surya Paloh Monitoring di Kampus ABN NasDem
    Sabtu, 11 Februari 2017 - 16:19:06 WIB
    Gubsu Tengku Erry Kunjungi Korban Kebakaran Pasar Tavip Binjai
    Senin, 16 Januari 2017 - 20:19:49 WIB
    Pertemuan Bulanan dan Perayaan Tahun Baru, Walikota Puji Peran Seorang Isteri
    Sabtu, 31 Desember 2016 - 15:56:49 WIB
    Perayaan Natal Pemerintah Kota Gunungsitoli Tahun 2016
    Natal Oikumene Kota Gunungsitoli Berlangsung Hikmat
    Sabtu, 04 Februari 2017 - 00:14:57 WIB
    Pembangunan DAM Parit Persawahan Hilimbowo Diduga Mark-Up, Masyarakat Surati Bupati Nias Utara
    Minggu, 20 Januari 2019 - 11:31:43 WIB
    Pak Lurah Ditangkap Polisi
    Senin, 30 Januari 2017 - 22:28:43 WIB
    Wakil Bupati Nias Harapkan Pemuda Pancasila Tetap Independen
    Selasa, 11 September 2018 - 08:15:12 WIB
    Begini Blusukan Presiden Jokowi di Kota Seoul
    Selasa, 17 Januari 2017 - 07:49:24 WIB
    Pelaku Pembantaian 39 Korban di Malam Pergantian Tahun Ditangkap
    Rabu, 01 Februari 2017 - 00:36:28 WIB
    Pemkot Gunungsitoli Selenggarakan Sosialisasi Penyusunan LPPD
    Kamis, 05 Januari 2017 - 11:35:41 WIB
    Chelsea Mesti Bangkit agar Januari Tidak Sekelabu September Lalu
    Kamis, 04 Oktober 2018 - 23:46:16 WIB
    Menkumham Menerima Kunjungan Kehormatan Anggota Parlemen Inggris
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
    Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved