Oleh : Yusadar Waruwu, S.Pd. Salam Restorasi sahabat-sahabat ku yang se-bangsa dan se-tanah Air. Dalam tempo beberapa hari lagi, kita akan merayak">
Senin, 18 Desember 2017  
 
Usia ke-72, Indonesia Seharusnya Sudah Lebih Dewasa dan Mandiri

WL | Serba-Serbi
Rabu, 16 Agustus 2017 - 21:18:18 WIB
Jakarta, Tiraskita.com - Salam
Restorasi sahabat-sahabat ku yang se-bangsa dan se-tanah Air. Dalam tempo
beberapa hari lagi, kita akan merayakan kembali Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Republik Indonensia. Kita akan diingatkan kembali dengan peristiwa Sejarah
Lahirnya sebuah bangsa yang berdaulat, yaitu bangsa Indonesia. Saya tidak perlu
ulas kembali bagaimana beratnya sebuah perjuangan hanya demi Indonesia sebab,
kita semua sudah tahu
berkat kegigihan dan
kerja keras para Pahlawan pendahulu kita, 72 Tahun yang lalu kedaulatan itu telah
berhasil kita rebut dari tangan para penjajah. Bukan hal yang mudah, perjuangan
para pahlawan kita
rela
mempertaruhkan segala sesuatu nya bahkan nyawa
, demi sebuah Kemerdekan bangsa Indonesia.

Pasca kemerdekaan, upaya-upaya pembelaan
terhadap Negara tidak pernah berhenti sampai disitu.
Secara utuh,
Indonesia memang telah berdaulat namun,
Indonesia
terus meningkat kan pertahanan Nasional dengan membentuk lembaga Tentara Nasional
Indonesia (TNI) dan Lembaga Kepolisian.


Bukan lagi usia yang mudah,
diumur
yang 72 tahun sebenarnya Indonesia sudah mampu mendiri secara ekonomi sosial
dan politik.
Diumur yang cukup dewasa
ini Indonesia
seharusnya sudah mampu bersanding dengan negara-negara
lain.
Banyaknya potensi-potensi
yang dimiliki oleh Indonesia
adalah
harapan bagi bangsa Indonesia

untuk bersaing secara global. Kekayaan sumber daya alam dan budaya yang beragam
dapat menjadi modal utama kita untuk mewujudkan cita-cita para leluhur kita
yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni menjamin
kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial. Ada banyak potensi-potensi lain yang dimiliki Indonesia
yang sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat, sehingga
Indonesia kedepan
mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain.

Namun pada kenyataannya, Indonesia masih
termasuk dalam kategori negara berkembang. Hal ini dibuktikan dengan
tingkat
pendidikan yang masih rendah, penghasilan per kapita masih rendah, tingkat
kesehatan yang masih rendah, sistem perekonomian yang masih bergantung dari
luar atau perekonomian masih bersistem tradisional, ditambahnya dengan
peningkatan angka pengangguran yang semakin tinggi, kesempatan untuk memperoleh
pekerjaan yang minim.
Hal ini dibuktikan dengan
daftar nama negara berkembang dunia tahun 2017 yang dirilis oleh antarapost
com.
Pada posisi
seperti ini Indonesia sebagai negara berkembang di Asia masih berada dibawah
India yang menempati nomor urut 15.
Sedangkan Brunei Darrusalam menempati posisi nomor urut 11 yang jaraknya lebih
jauh dari Indonesia yang masih menempati nomor urut 16.


Lantas mengapa Indonesia seperti masih lamban untuk bergerak menuju
kedewasaan nya?


Sebenarnya sumber daya manusia
di Indonesia tidak boleh diragukan. Ada banyak para cendekiawan bangsa
Indonesia yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi. Salah satunya
Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng seorang politisi dan ilmuwan. Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm, perusahaan penerbangan
yang berpusat di Hamburg, Jerman, sehingga mencapai puncak karier sebagai
seorang wakil presiden bidang teknologi. Pada tahun 1973, ia kembali ke
Indonesia atas permintaan mantan presiden Soeharto.
Selain Habibie, ada banyak para cendekiawan lain yang
telah menunjukan kemampuan nya dan mengharumkan nama baik dari Negara
Indonesia.


Dapat dikatakan
bahwa, ada banyak putra-putri bangsa Indonesia yang mampu bersaing dengan warga
negara lain dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara politik juga,
ada banyak tokoh nasional yang memiliki pengaruh yang besar dalam dunia
perpolitikan.


Satu hal yang menjadi hambatan lamban nya
pergerakan perkembangan Indonesia sampai saat ini menurut sudut pandang saya
adalah belum mampunya Indonesia melawan dirinya sendiri. Soekarno pernah
berkata bahwa "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi
perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri".

Dapat kita renungkan bagaimana Indonesia saat
ini sesungguhnya sedang dihadapkan pada perang melawan dirinya sendiri. selain
melawan Ideologinya sendiri, perpolitikan yang saling mencari celah untuk
menjatuhkan. Hal ini dibuktikan dengan mulai munculnya ideologi-ideologi baru
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bahkan beberapa riset
mengemukakan terdapat sebagian kecil masyarakat yang tidak sepaham dengan
Pancasila.

Kita juga bisa melirik kebelakang, bagaimana
sistem perpolitikan di Indonesia sejak rezim orde lama, orde baru dan hingga
era reformasi sangat jauh berbeda dengan sistem politik Indonesia pada zaman
kolonial. Perpolitikan bangsa Indonesia pada zaman kolonial rakyat mau dan
mampu untuk saling bersatu, bahu membahu dan saling membangun untuk merebut
kemerdekaan. Sementara, pada pasca kemerdekaan hingga saat ini sistem
perpolitikan di Indonesia disibukan dengan perebutan kekuasaan dan kepentingan,
baik kepentingan kelompok maupun kepentingan individu. Hal yang sangat
memprihatinkan lagi ketika para elit politik itu sendiri saling menjatuhkan
untuk merebut kekuasaan, dan akhirnya lupa dengan tugas dan kewajiban yang
sesungguhnya yaitu untuk menciptakan manusia Indonesia yang kesejahteraan dan
kemakmuran, menciptakan kemajuan dibidang ilmu dan teknologi, dan membawa perubahan
Indonesia ke arah yang lebih baik secara moral dan etika.


Perlu kita akui bahwa potensi-potensi yang
mereka miliki maupun ilmu dalam berpolitik memang cukup mumpuni. Namun, disisi
lain realitas dari out put yang terjadi bukan membawa Perubahan yang bisa
menciptakan bangsa semakin mandiri, justru membawa kegelisahan bagi bangsa
Indonesia sendiri.

ABN Jawaban Restorasi Indonesia
Bertepatan pada umur yang ke 72 tahun ini,
Partai Nasional Demokrat yang merupakan sebuah partai politik termuda di
Indonesia telah menciptakan sebuah wadah pendidikan kader politik yang
dinamakan Akademi Bela Negara (ABN). Sekolah pendidikan politik ini diresmikan
langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Juli 2017.


Menurut saya ABN sangat tepat dihadirkan
untuk menjadi solusi dari setiap persoalan bangsa Indonesia saat ini. Sebab, selama
proses pendidikan, kader akan dilatih menjadi sosok pemimpin yang berpotensi
dan berkarakter. Secara intelektual kader harus memiliki wawasan dan gagasan
yang kuat serta cerdas dalam berpikir, bertutur dan bertindak. Tak kalah
penting juga adalah pembentukan karakter setiap mahasiswa. Pembentukan karakter
akan menciptakan kepribadian setiap kader, yang bermoral dan berakhlak.


Saya percaya, dengan kehadiran kader-kader
baru dari ABN, kelak akan menjadi sebuah harapan baru untuk Indonesia, sebab
secara karakter kader-kader telah terdidik dan terlatih melalui proses penerapan
kedisiplinan dan pendalaman nilai-nilai moralitas dan budi pekerti. Indonesia
belum putus harapan untuk meraih cita-cita dan masa depan yang gemilang,
harapan baru akan tiba dan tunas-tunas baru akan segera dilahirkan dari Akademi
Bela Negara produk Partai NasDem ini.


Semoga pada usia yang ke-72 Tahun ini, saya
berharap Indonesia semakin kokoh dan kuat atas dasar-dasar dan ideologi yang
kuat yaitu Pancasila. Menjujung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesetuan dalam
Kebhinekaan. Semoga rakyat Indonesia tersadar bahwa usia nya sudah semakin
dewasa, maka perlu pendewasaan kualitas dan kemandirian Indonesia.


Oleh`; Yusadar Waruwu, S.Pd.
Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Somolo-Molo, Kabupaten Nias-Sumatera Utara.
Koordinator Wilayah Mahasiswa Akademi Bela Negara Provinsi Sumatera Utara.

Reg: 073






Jumat, 27 Oktober 2017 - 11:42:30 WIB
Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Generasi Restorasi
Sabtu, 07 Oktober 2017 - 18:53:57 WIB
Memimpin Bukan Kesenangan
Rabu, 23 Agustus 2017 - 13:00:19 WIB
Pandangan Masyarakat Terhadap Kelompok Kepentingan, Kelompok Penekan dan Partai Politik
Rabu, 16 Agustus 2017 - 21:18:18 WIB
Usia ke-72, Indonesia Seharusnya Sudah Lebih Dewasa dan Mandiri
Senin, 31 Juli 2017 - 19:02:57 WIB
Akademi Bela Negara Pembela Ideologi Bangsa
Jumat, 23 Juni 2017 - 11:51:41 WIB
Bupati Nias Dinilai Fokus Pada Santunan Kematian, Bagaimana Janji Kampanye?
Rabu, 14 Juni 2017 - 03:06:21 WIB
Wapias ALPENAS: Ketua Komisi C DPR-D Nias Tidak Tahu Fungsi dan Tugasnya
Selasa, 06 Juni 2017 - 12:35:26 WIB
Pakar Hukum Kepulauan Nias Bicara Soal Raskin Tidak Layak Konsumsi
Rabu, 31 Mei 2017 - 16:09:26 WIB
TNI Kalahkan Ratusan Tentara Asing dengan Sehelai Rumput
Selasa, 30 Mei 2017 - 20:45:27 WIB
Anggota Polsek Serpong Meninggal Saat Memberi Kultum
Selasa, 30 Mei 2017 - 19:46:52 WIB
Polda Sumut Menyanggah Adanya Oknum Polisi Pukuli Imam Sholat Tarawih Pada Tahun 2017
Selasa, 25 April 2017 - 22:32:59 WIB
LRPPN Bhayangkara Indonesia, Siapkan Program Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkotika di Pulau Nias
Sabtu, 11 Maret 2017 - 10:20:49 WIB
Lima Pesawat Tempur dan Dua Batalion TNI Perkuat Natuna
Jumat, 24 Februari 2017 - 16:52:28 WIB
Polda Sumut Akan Tindak Tegas Aksi Sweeping Ilegal Gojek Ataupun Betor Dijalan
Jumat, 24 Februari 2017 - 00:27:02 WIB
Akankah Sejumlah Pejabat Tinggi TNI Dimutasi?
Kamis, 09 Februari 2017 - 00:56:21 WIB
Perwira Polres Nias Kalvinus Gulo Dimakamkan Secara Tradisi Polri
Jumat, 03 Februari 2017 - 01:22:53 WIB
Kapolsek Gunungsitoli Alooa Ingatkan Warga Waspadai Curanmor
Senin, 30 Januari 2017 - 08:26:28 WIB
Kapolri Tito Karnavian Berikan Arahan Kepada Para Kapolda dan Pejabat Polri
Selasa, 17 Januari 2017 - 10:01:48 WIB
Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru, Polda Sumut Kunjungi Masyarakat Pengungsi
Minggu, 15 Januari 2017 - 13:53:19 WIB
Kegiatan Operasional, Berikut Pesan Kapolda Sumut
Rabu, 11 Januari 2017 - 11:12:19 WIB
Polisi Boyong 6 Pengedar Narkoba di Mapolrestabes Medan
Selasa, 10 Januari 2017 - 20:49:24 WIB
Berikut Amanat Kapolres Nias Kepada Masing-Masing Bagian dan Satuan di Polres Nias
Senin, 09 Januari 2017 - 01:13:17 WIB
KM Lawit Tiba di Gunungsitoli, 70 Personel Polres Nias Diturunkan
Kamis, 05 Januari 2017 - 08:19:45 WIB
Bupati Sebut Pejabat Eselon II Sebagai Perpanjangan Tangan Bupati dan Wakil Bupati
Index
 
Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved