Oleh: Yusadar Waruwu, S.Pd. Mahasi">
Senin, 18 Desember 2017  
 
Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Generasi Restorasi

Redaksi | Serba-Serbi
Jumat, 27 Oktober 2017 - 11:42:30 WIB
"Barangsiapa yang saat ini
membangkitkan kembali ide kepulauan, ide provincialisme dan ide federalisme
orang itu adalah seperti orang yang menggali kubur dan mencoba mengidupkan
kembali tulang dari orang yang dikuburkan 28 tahun lampau!": Ir. Soekarno.

Sesaat
lagi kita akan memperingati kembali hari Sumpah Pemuda yang ke-89. Sumpah
Pemuda mengingatkan kita pada peran penting dari perjuangan pemuda-pemudi bangsa
Indonesia untuk merebut kedaulatan dari para kolonialisme dan telah menjadi
tonggak utama kemerdekaan. Beberapa tahun setelah kelahiran kesadaran nasional
pada 20 Mei 1908 yang dikenal dengan "Budi Utomo", kaum muda saat itu telah berhasil
menemukan satu konsep yang paling penting untuk meraih kedaulatan bangsa dari
pengalaman perjuangan masa lalu yang dilakukan oleh para leluhur kita yang
hanya masih membela atau mempertahankan kerajaan-kerajaan, pulau-pulau atau
suku-sukunya masing-masing dari kolonialisme. Kaum muda melihat bahwa sistem
pembelaan dan pertahanan yang dilakukan oleh masing-masing suku atau
masing-masing pulau dinilai kurang masksimal untuk mengusir para kolonial dari
bumi pertiwi ini. Kaum muda menyadari bahwa kita tidak akan pernah bisa meraih
kedaulatan itu sepenuhnya jika masih dikotak-kotakkan dengan perbedaan suku dan
pulau.


Tepatnya 28 Oktober 1928,
pemuda-pemudi Indonesia menggagas sebuah konsep baru yang menghantarkan
Indonesia pada sebuah kemerdekaan. Gaung ini terdengar keras dan membakar
semangat nasionalisme dan patriotisme seluruh masyarakat di seluruh pelosok
Nusantara. Konsep ini akhirnya dirumuskan dan diikrarkan menjadi sebuah sumpah
yang sampai saat ini dikenal dengan "Sumpah Pemuda" yakni (1) KAMI POETRA DAN
POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA, (2)
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA
INDONESIA (3) KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA.


Lahirnya sumpah pemuda ini kemudian
menyatukan seluruh nusantara sebagai bangsa "Indonesia". Nusantara menjadi satu tanah air,
satu
bangsa,
dan satu bahasa. Sumpah pemuda juga membentuk para pemuda
Indonesia sebagai barisan yang kuat untuk merebut kemerdekaan. Para pemuda Indonesia menyatu dengan semangat yang
senada.
Pemuda Indonesia bergerak satu dalam kesatuan dan satu tujuan
untuk mengusir para kolonialis dan merebut kemerdekaan. Semangat nasionalisme
pemuda Indonesia dari seluruh pelosok tanah air semakin berkobar dan membara di
dada. Semangat memperjuangkan kemerdekaan tidak bisa dibendung. "Hidup atau
Mati", adalah semboyan yang sudah tertanam kuat dalam jiwa raga pemuda-pemudi Indonesia. Tetesan
keringat, darah, air mata bahkan nyawa adalah pengorbanan yang telah diberikan
oleh pemuda-pemudi Indonesia. Sumpah pemuda menjadi kristalisasi semangat
seluruh pemuda Indonesia untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.


Betapa besarnya, peran pemuda dalam merebut kemerdekaan. Pemuda telah memberikan kita suatu makna yang
penting untuk menyadari berdirinya sebuah bangsa Indonesia yang semula berawal
dari perjuangan suku-suku dan pulau-pulau yang berbeda. Melalui sumpah pemuda
akhirnya perjuangan yang datang dari perbedaan ini menyatu dalam perjuangan
pembelaan terhadap tanah air ,hingga berdirilah suatu bangsa yaitu bangsa
Indonesia.


Kolonel TNI (Purn) Eusebio H. Rebello, Sekretaris Utama (Settama) Akademi
Bela Negara (ABN) Partai NasDem pernah mengungkapkan bahwa "Indonesia lahir
dari persamaan perasaan yang hendak hidup untuk bersatu sebagai satu bangsa".
Istilah ini diperkenalkan oleh Eusebio H. Rebello pada kuliah umum tentang
"Keharmonisan
dalam keragaman" di Balai Pendidikan ABN Partai NasDem pada 24 Oktober 2017. Kalimat ini menjelaskan bahwa Indonesia lahir dari keragaman yang tidak menolak
perbedaan antara satu dengan yang lain. Mereka justru memiliki perasaan yang sama
untuk hidup bersama dalam satu kesatuan. Perbedaan dapat disatukan menjadi satu
kekuatan besar yang memudahkan mereka untuk menjadikan kita sebagai bangsa yang
berdaulat. Kedaulatan itu kini telah menjadi hak yang diwariskan kepada kita
saat ini.


Namun
beberapa dekade terakhir, masih terdapat masyarakat yang kurang memberikan
pengakuan dan penerimaan terhadap perbedaan ini. Solidaritas antara perbedaan
belum bisa sepenuhnya ditunjukkan. Hal ini dibuktikan dengan muncul nya konflik
pada beberapa wilayah di Indonesia yang diakibatkan oleh perbedaan agama, suku,
golongan dan sebagainya. Sebagai contoh, dikutip dari Gigihweb.id adalah Kerusuhan di kota Poso, Sulawesi Tengah yang merupakan
konflik sosial di antara umat Islam dan Nasrani. Kerusuhan poso I terjadi antar
tanggal 25 sampai 29 Desember 1998, Poso II terjadi antar tanggal 17 sampai 21
April 2000, sementara pada Poso III terjadi antar tanggal 16 Mei sampai 15 Juni
2000. Konflik antar agama selanjutnya adalah di kota Situbondo Jawa Timur, pada
tanggal 10 Oktober 1996. Peristiwa ini terjadi dan dilatarbelakangi oleh sebab
tidak puasnya kasus hukum yang menimpa salah satu orang penghina agama Islam.
Sedangkan konflik lain yang dipicu karena perbedaan suku dikutip dari
Raparapa.com adalah konflik Flores Timur yang pernah dibanjiri dengan kekerasan
yang akhirnya terjadi perang antar suku. Ini semua berawal dari sengketa tanah.
Dua Desa di Lewolema saling perang dan mengakibatka dua orang harus dirawat di
rumah sakit. Contoh lain adalah konflik Sigi di kabupaten yang berada di
Sulawesi Tengah. Dan di tahun 2012 lah Sigi pernah mengalami perang antar suku.
Di perang itu dua desa saling bentrok. Akhirnya 15 rumah di Kecamatan Marowala
Sigi terbakar. Belasan warga juga terluka.


Soekarno pernah berkata dalam pidatonya memperingati hari
Sumpah Pemuda yang ke dua puluh delapan (1956). "
Barangsiapa yang saat ini membangkitkan kembali ide
kepulauan, ide provincialisme dan ide federalisme orang itu adalah seperti
orang yang menggali kubur dan mencoba mengidupkan kembali tulang dari orang
yang dikuburkan 28 tahun lampau!". Pesan ini menjelaskan bahwa para founding
fathers
kita tidak mengharapkan ide-ide perpecahan yang mengkotak-kotakan kita
dalam perbedaan. Bahkan Soekarno mengganggap itu sebagai sikap yang mencoba
menggali kembali kuburan para pemuda-pemudi Indonesia yang telah berikrar pada
sumpah kesatuan. Beliau menegaskan kepada kita untuk tidak sekali-sekali
memunculkan ide kepulauan, ide provincialisme dan ide federalism itu, sebab hal ini sama dengan tindakan yang telah membangkitkan kembali tulang-tulang dan
amarah pemuda-pemudi (leluhur kita) yang telah dikuburkan sejak 89 tahun yang lampau.


Generasi
muda adalah harapan dan masa depan bangsa. Bangsa ini akan maju apabila para
pemuda nya memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan sikap toleransi yang
menghargai dan mengakui pluralisme atau perbedaan yang ada. Suatu bangsa akan
maju jika para pemudanya memelihara kedamaian dan keadilan. Jika dilihat dari
kuantitas pemuda memiliki populasi yang cukup banyak sekitar 24,5%
dari
total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014)
seperti dilansir dari Surabayaonline.co. Ratio yang cukup besar ini
sesungguhnya menjadi kekuatan besar untuk memajukan Indonesia.
Soekarno pernah menyampaikan bahwa "camkanlah kata-kata saya ini, dari sepenuh hatiku saya anjurkan, cintailah dan
majukanlah di segala lapangan di daerah mu masing-masing. Tetapi jangan lupa
bahwa di daerahmu masing-masing itu adalah bagian yang tidak bisa
dipisah-pisahkan dari satu tubuh yaitu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia
dan bahasa Indonesia". Soekarno memiliki kerinduan pemuda generasi saat ini
ikut berpatisipasi dalam mempertahankan keutuhan dan kesatuan bangsa serta ikut
serta dalam memajukan Indonesia untuk bisa bersaing di kancah internasional.
Maksud lain juga yang disampaikan oleh Soekarno adalah sikap toleransi untuk saling menghargai perbedaan. Membangun daerah masing-masing tanpa mendiskriminasikan
diri ataupun sebaliknya mendiskriminasikan kelompok lain atas dasar perbedaan.


Hal
yang sama juga pernah disampaikan oleh Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh
pada
Perayaan
Natal di Gelanggang Olahraga Oepoi, Kupang, Nusa Tenggara Timur (10/01/2015).
Surya Paloh atau yang sering disebut Bapak Restorasi ini mengajak seluruh umat
untuk menjaga pluralisme agar terciptalah kedamaian. Pluralisme adalah hal yang
harus dihargai dan diterima sebagai warga Negara Indonesia yang berideologi
pancasila. Hanya dengan sikap pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan mampu membawa
Indonesia ke arah yang lebih baik dan berkompetitif.

Pemuda diharapkan tidak lagi
menghabiskan energi untuk memperdebatkan perbedaan yang mementingkan egosentrisme masing-masing. Dengan demikian pemerintah dan seluruh masyarakat focus dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia ke araah yang lebih baik. Terlebih-lebih dalam menghadapi dinamika bangsa di
zaman modern saat ini, yang sangat berpotensi akan terjadi perang
non-konvesional atau perang yang tidak menggunakan kekerasan. Perang ini bisa
berupa perang ideology, perang dagang, perang mata uang dan perang cyber atau proxy war. Proxy war atau perang cyber ini bentuk modus perang baru yang
menghindari system konfrontasi yang berkonspirasi jahat melakukan pemecahan
suatu golongan atau pun bangsa. Sistem doktrinisasi dilakukan melalui media
social dan dominan menyerang para kaum muda yang melek terhadap teknologi
.

Pemuda juga diharapkan dapat
memperbaiki etos kerja yang mumpuni sehingga bisa bersaing dengan dunia
internasional. Dalam perkembangan globalisasi, sumber daya manusia sangat
diperlukan untuk tidak tertinggal dengan negara-negara lain. Pemuda harus mampu
membangunkan kembali
naluri-naluri
yang telah tertidur demi keutuhan NKRI. Semangat bela negara harus terus
digaungkan, semangat kerjasama dan gotong royang terus dipelihara dan terus
menjujung tinggi sikap menghormati terhadap jasa-jasa para pahlawan yang telah
berjuang memberikan kita kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia yang berdaulat.



Ditulis oleh: Yusadar Waruwu,
S.Pd.

Mahasiswa Akademi Bela Negara
Partai NasDem

Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan
Somolo-Molo, Kabupaten Nias (Sumut)


Jumat, 27 Oktober 2017 - 11:42:30 WIB
Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Generasi Restorasi
Sabtu, 07 Oktober 2017 - 18:53:57 WIB
Memimpin Bukan Kesenangan
Rabu, 23 Agustus 2017 - 13:00:19 WIB
Pandangan Masyarakat Terhadap Kelompok Kepentingan, Kelompok Penekan dan Partai Politik
Rabu, 16 Agustus 2017 - 21:18:18 WIB
Usia ke-72, Indonesia Seharusnya Sudah Lebih Dewasa dan Mandiri
Senin, 31 Juli 2017 - 19:02:57 WIB
Akademi Bela Negara Pembela Ideologi Bangsa
Jumat, 23 Juni 2017 - 11:51:41 WIB
Bupati Nias Dinilai Fokus Pada Santunan Kematian, Bagaimana Janji Kampanye?
Rabu, 14 Juni 2017 - 03:06:21 WIB
Wapias ALPENAS: Ketua Komisi C DPR-D Nias Tidak Tahu Fungsi dan Tugasnya
Selasa, 06 Juni 2017 - 12:35:26 WIB
Pakar Hukum Kepulauan Nias Bicara Soal Raskin Tidak Layak Konsumsi
Rabu, 31 Mei 2017 - 16:09:26 WIB
TNI Kalahkan Ratusan Tentara Asing dengan Sehelai Rumput
Selasa, 30 Mei 2017 - 20:45:27 WIB
Anggota Polsek Serpong Meninggal Saat Memberi Kultum
Selasa, 30 Mei 2017 - 19:46:52 WIB
Polda Sumut Menyanggah Adanya Oknum Polisi Pukuli Imam Sholat Tarawih Pada Tahun 2017
Selasa, 25 April 2017 - 22:32:59 WIB
LRPPN Bhayangkara Indonesia, Siapkan Program Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkotika di Pulau Nias
Sabtu, 11 Maret 2017 - 10:20:49 WIB
Lima Pesawat Tempur dan Dua Batalion TNI Perkuat Natuna
Jumat, 24 Februari 2017 - 16:52:28 WIB
Polda Sumut Akan Tindak Tegas Aksi Sweeping Ilegal Gojek Ataupun Betor Dijalan
Jumat, 24 Februari 2017 - 00:27:02 WIB
Akankah Sejumlah Pejabat Tinggi TNI Dimutasi?
Kamis, 09 Februari 2017 - 00:56:21 WIB
Perwira Polres Nias Kalvinus Gulo Dimakamkan Secara Tradisi Polri
Jumat, 03 Februari 2017 - 01:22:53 WIB
Kapolsek Gunungsitoli Alooa Ingatkan Warga Waspadai Curanmor
Senin, 30 Januari 2017 - 08:26:28 WIB
Kapolri Tito Karnavian Berikan Arahan Kepada Para Kapolda dan Pejabat Polri
Selasa, 17 Januari 2017 - 10:01:48 WIB
Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru, Polda Sumut Kunjungi Masyarakat Pengungsi
Minggu, 15 Januari 2017 - 13:53:19 WIB
Kegiatan Operasional, Berikut Pesan Kapolda Sumut
Rabu, 11 Januari 2017 - 11:12:19 WIB
Polisi Boyong 6 Pengedar Narkoba di Mapolrestabes Medan
Selasa, 10 Januari 2017 - 20:49:24 WIB
Berikut Amanat Kapolres Nias Kepada Masing-Masing Bagian dan Satuan di Polres Nias
Senin, 09 Januari 2017 - 01:13:17 WIB
KM Lawit Tiba di Gunungsitoli, 70 Personel Polres Nias Diturunkan
Kamis, 05 Januari 2017 - 08:19:45 WIB
Bupati Sebut Pejabat Eselon II Sebagai Perpanjangan Tangan Bupati dan Wakil Bupati
Index
 
Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
Advertorial | Foto | Galeri | Opini | Tokoh | Opini
About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer | Index
Copyright © 2017 PT. ZONA INDONESIA INTERMEDIA, All Rights Reserved