Minggu, 13 Juni 2021  
 
Connie Rahakundini Bakrie: Wujudkan Yerusalem Accords, Indonesia Mesti Libatkan Pendeta dan Kardinal

RL | Internasional
Senin, 07 Juni 2021 - 19:44:56 WIB

JAKARTA | TIRASKITA.COM – Analis pertahanan dan pengamat politik timur tengah Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung, Dr Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan, Presiden Indonesia, Joko Widodo dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, harus mewujudkan Yerusalem Accords.

“Tujuannya mewujudkan perdamaian permanen antara Israel dengan sejumlah faksi teroris di Palestina, dengan memahami latar belakang sejarah secara jujur,” kata Connie Rahakundini Bakrie dalam Jozeph Paul Zhang Channel, Senin, 7 Juni 2021.

Connie Rahakundini Bakrie mengemukakan hal itu, menanggapi gencatan senjata antara Israeli Defense Forces (IDF) dengan teroris Gerakan Pertahanan Islam/Jihadis Islamic Palestine (Hamas/JIP) di Gaza, Palestina, Jumat dinihari, 21 Mei 2021.

Serangan IDF sejak Senin siang, 10 Mei 2021, dipicu pembongkaran pemukiman warga Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem timur, dan pelarangan warga Palestina menggelar ibadat tawarih di Masjid Al Aqsa.

Dampaknya Hamas dan JIP menghujani 160 roket ke kerumunan warga Israel yang tengah merayakan hari jadi Kota Yerusalem, Senin pagi, 10 Mei 2021.

Aksi serangan balasan brutal IDF, menyebabkan 250 warga Palestina tewas, dan 66 di antaranya anak-anak. IDF mengklaim lebih dari 60 teroris Hamas dan JIP tewas dalam serangan Israeli Air Forces (IAF) selama 11 hari.

Dikatakan Connie Rahakundini Bakrie, tokoh Gereja Katolik seperti Kardinal dan tokoh Gereja Kristen seperti Pendeta di Indonesia dan pihak lain yang memiliki pemahami memadai tentang sejarah Yerusalem, perlu dilibatkan di dalam mewujudkan Yerusalem Accords.

“Konflik Israel sejumlah sejumlah faksi di Palestina, selalu bermuara kepada dua tempat suci di Yerussalem timur, yaitu Tembok Ratapan dan Masjid Al Aqsa,” ujar Connie Rahakundini Bakrie.

Menurut Connie Rahakundini Bakrie, para Kardinal dan Pendeta perlu dilibatkan, karena di dalam bible, ada penjelasan rinci tentang latarbelakang Yerusalem. Kalau Pemerintah Indonesia ingin mewujudkan perdamaian di Yerusalem, pahami dulu isi bible, karena ada fakta sejarah di dalamnya yang harus kita pahami bersama secara jujur,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

“Kota perdamaian dalam etimologi untuk hunian perdamaian. Yerusalem pertama kali muncul ada di dalam bible. Untuk mewujudkan perdamaian di Yerusalem, otoritas yang berwenang di Indonesia, idealnya baca alkitab atau bible. Di dalam bible lengkap data tentang sejarah Yerusalem, terutama pada masa awal,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Dari data di bible, dirancang pembahasan lebih lanjut dengan melibatkan Kardinal dan Pendeta, untuk berdiskusi dengan sejumlah negara sahabat yang terkait erat dengan Israel, untuk mewujudkan Yerusalem Accords.

Yerusalem dan Itifada I – II

Untuk memahami pendapat Connie Rahakundini Bakrie, mesti dilihat dulu sejarah pendudukan Yerusalem.

“Kata Yerusalem, pertama kali muncul di dalam bible,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Tahun 2.500 Sebelum Masehi (SM), Bangsa Kanaan datang dari tenggara, menamakannya Yerusalem seperti nama Dewa bangsa Kana’an. Tahun 2.000 SM, Bangsa Amorit memasuki dari tenggara, disusul bangsa Fenisia dari utara.

Tahun 1.200 SM, Bangsa Filistin Pendo menempati selatan kawasan ini dan Bani Israel yang keluar dari Mesir bersama Nabi Musa dan Nabi Harun datang dan menempati bagian timur Laut Mati mendesak kedudukan bangsa Kanaan.

Tahun 1.025 SM – 586 SM, masa kekuasaan Raja-raja Bangsa Israel. Tahun 1.010 SM,Bangsa Filistin mengalahkan Raja Saul dan mengambil Tabut Perjanjian.

Tahun 1.000 SM, Daud menaklukkan kota Yerusalem, dan menjadikannya sebagai ibu kota Israel.

Tahun 962 SM, Raja Salomo mendirikan Bait Pertama. Tahun 722 SM – 586 SM, Kerajaan Asuriah dan Babilonia menguasai Yerusalem mengalahkan Israel dan Yudea. Raja Nebuchadnezzar II (605 SM – 562 SM) menawan bangsa Yahudi ke Babilonia.

Tahun 587  SM, Pengasingan bangsa Yahudi ke Babilonia.

Tahun 539 SM – 331 SM, Kerajaan Persia di bawah Cyprus mengalahkan Babilonia dan Cheldania (Irak) dan menduduki Yerusalem, pada masanya orang-orang Yahudi yang ditawan diijinkan kembali ke Yerusalem.

Tahun 332 SM, Kerajaan Makedonia di bawah Raja Aleksander (Iskandar) Agung menduduki Yerusalem setelah mengalahkan Persia. Tahun 166 SM – 37 SM: Yahudi Makkabe mendirikan kerajaan di Yerusalem. Tahun 25 SM – 96 SM, Dinasti Herodes.

Tahun 6 SM, Kelahiran Yesus. Tahun 33,  kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus. Tahun 70, ditaklukkan oleh Tentara Romawi di bawah Raja Titus. Penghancuran secara habis-habisan. Dari Bait Allah hanya tembok barat, Tembok Ratapan yang masih ada.

Tahun 117 – 138, Urbanus (Romawi) membasmi pemberontakan orang-orang Yahudi, hanya beberapa orang yang sempat melarikan diri. Semua bangunan hancur.

Tahun 313, di bawah kekuasaan Romawi yang memberikan kebebasan beragama bagi umat Kristen, sampai Raja Julian yang menentang agama Kristen. Pada masa kekuasaan Konstantin, Ratu Helina ibu suri berziarah ke Yerusalem dan mendirikan Gereja Makam Yesus kristus/Isa Al masih.

Tahun 614, masa Bizantium diperintah Heraklius (614-641), Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Persia. Penghancuran secara habis-habisan. Tahun 627, Heraklius merebut kembali Yerusalem dari Persia.

Tahun 636, Khalifah Umar bin Khattab memasuki Yerusalem. Tahun 637, ditaklukkan oleh Tentara Arab. Tahun 1099, ditaklukkan oleh Tentara Perang Salib yang mendengarkan seruan Raja Bizantium Alexios I, Paus Urbanus II yang menyerukan pembebasan “tanah suci” di vatikan.

Tahun 1190, Shalahuddin Al-Ayyubi mengambil alih Yerusalem dari Tentara Perang Salib dan menghapus larangan orang Yahudi tinggal di sana. Tahun 1244, ditaklukkan oleh bangsa Tatar Khwarezmia.

Tahun 1247, ditaklukkan oleh Mesir. Tahun 1527 – 1917, bagian dari jajahan Turki Usmani.

Tahun 1917 – 1948, bagian dari daerah mandat Britania Raya, Palestina. Tahun 1948, kota dibagi dua, bagian barat direbut Israel, bagian timur dikuasai Yordania.

Tahun 1967, setelah Perang Enam Hari,  5 – 10 Juni 1967, bagian barat dan timur Yerusalem seluruhnya dikuasai oleh Israel.

Pada 1987 – 1993, Intifada (Intifadhah) adalah gerakan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel.

Intifada I terhadap terjadi di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Edward Said dalam Intifada: The Palestinian Uprising Against Israeli Occupation (1989) menyebutkan, Intifada I dimulai pada 9 Desember 1987. Kejadian bermula dari tewasnya Taleb Abu Zaid dan tiga rekannya sesama orang Palestina pada 8 Desember 1987.

Mereka kehilangan nyawa setelah ditabrak kendaraan pengangkut tank milik Israel. Tabrakan menyebabkan 10 orang lain terluka, termasuk Jawad Abu Zaid, saudara kandung Taleb.

Keluarga Taleb dan rakyat Palestina murka setelah mengetahui insiden. Pemakaman para korban kala itu dihadiri oleh setidaknya ada 10.000 orang yang berlanjut menjadi aksi demonstrasi. Aksi ini ditanggapi oleh tentara Israel dengan tembakan.

Sepuluh hari kemudian terjadi demonstrasi lagi, kali ini di Tepi Barat. Pada 16 Desember 1987, para pedagang melakukan aksi mogok dengan menutup toko di Yerussalem Timur. Kaum demonstran Palestina memblokade jalan dan membakar ban.

Tak hanya itu. Rangkaian bentrok berikutnya pecah. Rakyat Palestina menghadapi pasukan Israel dengan melemparkan batu dan bom molotov. Istilah Intifada sendiri berarti “guncangan” dan dijadikan spirit atau cara bagi orang-orang Palestina untuk melawan Israel. Tidak sedikit warga Palestina yang ditahan Israel dalam rangkaian aksi ini.

Intifada I dianggap berakhir usai dilakukannya kesepakatan perdamaian antara Palestine Liberation Organization (PLO) dan Israel di Oslo, Norwegia, 20 Agustus 1993.

Palestine Liberation Organization (PLO) adalah gabungan gerakan pembebasan Palestina yang dirintis pemimpin gerakan Al-Fatah, Yasser Arafat. Dalam Perjanjian Oslo tahun 1993, PLO diwakili Yasser Arafat sementara Israel oleh Perdana Menteri Yitzak Rabin.
Pada 38 September 2000, muncul Aksi Intifada II, setelah Perdana Menteri Israel  Ariel Sharon, berkunjung ke Tembok Ratapan.

British Broadcasing Corporation (BBC), edisi 12 April 2012, bertajuk “2000: ‘Provocative’ Mosque Visit Sparks Riots“, pemicunya adalah kedatangan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, ke Temple Mount (Tembok Ratapan) dan dikawal oleh ratusan polisi.

Temple Mount  atau Tembok Rapatan, adalah Bukit Bait Suci yang berlokasi di Kota Lama Yerusalem. Kawasan ini dianggap sebagai tempat sakral dan dimuliakan oleh tiga penganut agama samawi yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.

Kehadiran Ariel Sharon mengundang kemarahan rakyat Palestina yang menganggap Israel akan mencaplok Temple Mount sebagai wilayah milik Yahudi. Pasalnya, di kawasan tersebut terdapat Masjid Al-Aqsa yang amat dihormati oleh kaum muslim. Maka, Intifada II juga disebut sebagai Intifadhah al-Aqsha.

Setelah Ariel Sharon meninggalkan kompleks Temple Mount, ratusan warga Palestina melakukan demonstrasi yang berujung kerusuhan. Polisi menembakkan peluru karet dan gas air mata ke arah massa.

Rangkaian konflik beberapa kali terjadi sejak saat itu. Setidaknya selama periode 2000 hingga 2007, menurut data dari The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories, korban tewas diperkirakan mencapai 4.219 orang dari Palestina dan 1.024 orang Israel.

Tahun 2017, beberapa negara mengecam tindakan presiden Amerika Serikat Donald John Trump yang berencana memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem.

Perjanjian Lateran 1929

Melihat rangkaian konflik, maka penyelesaian konflik tentang kota Yerusalem, Indonesia harus memprakarsai melalui Yerusalem Accords, sebagaiana Perjanjian Lateran dan Abraham Accords 2020.

“Untuk mewujudkan Yerusalem Accords, Indonesia, harus terlebih dahulu membuka hubungan diplomatic dengan Israel, karena geopolitik di timur tengah sekarang sudah berubah sedemikian rupa, di dalam memberantas aksi terorisme global,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Menurut Connie Rahakundini Bakrie, Perjanjian Lateran, haruslah dijadikan rujukan di dalam mewujudkan Yerusalem Accords.

Perjanjian Lateran adalah salah satu dari Pakta Lateran tahun 1929 atau Persetujuan Lateran, tiga persetujuan yang dibuat pada tahun 1929 antara Kerajaan Italia dan Tahta Suci, diratifikasi pada tanggal 7 Juni 1929, mengakhiri masa “Pertanyaan Romawi”.

Perjanjian ini terdiri atas tiga dokumen. Pertama, sebuah “perjanjian politik” yang menghargai kemerdekaan penuh Tahta Suci di Negara Kota Vatikan, yang oleh karenanya terbentuk.

Kedua, sebuah “concordat” yang mengatur posisi Gereja Katolik Roma dan agama Katolik Roma di dalam negara Italia.

Ketiga, sebuah “konvensi finansial” yang menyetujui penyelesaian definitif terhadap permintaan ganti rugi Tahta Suci menyusul hilangnya wilayah dan kekayaan milik Tahta Suci.

Perundingan-perundingan untuk penyelesaian masalah “Pertanyaan Romawi” dimuali pada tahun 1926 antara Pemerintah Italia dan Tahta Suci, dan pada tahun 1929 mereka mewujudkannya dalam bentuk persetujuan yang berbentuk tiga Persetujuan Lateran.

Perjanjian Lateran ditandatangani bagi Raja Victor Emmanuel III dari Italia oleh Perdana Menteri Benito Mussolini dan bagi Paus Pius XI oleh Kardinal Menteri Luar Negeri Pietro Gasparri.

“Persetujuan ini ditandatangani di Istana Lateran, karena itu nama persetujuan ini berasal dan dipakai hingga hari ini,” ujar Connie Rahakundini Bakrie.

Abraham Accords

Di samping Abraham Accords, menurut Connie Rahakundini Bakrie, Indonesia harus melihat Abraham Accords yang diawali Konferensi Warsawa di Polandia tahun 2019.

Konferensi Warsawa 2019, membahas terorisme dan ekstrimisme, pengembangan dan penambahan misil, perdagangan dan keamanan maritim, dan ancaman yang dihimpun oleh kelompok-kelompok proksi di wilayah tersebut.

Peserta Konferensi Warsasa, 13 – 14 Februari 2019, terdiri dari Bahrain, Mesir, Israel, Yordania, Kuwait, Maroko, Oman, Norwegia, Polandia, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Inggris, Amerika dan Yaman. Dari Amerika Serikat, hadir  Presiden Mike Pence, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Rudy Giuliani (Pengacara Donald John Trump).

Rudy Giulani mengatakan, “Untuk mencapai perdamaian dan keamanan di Timur Tengah, harus ada perubahan besar dalam kediktatoran teokratis di Iran. Kediktatoran itu harus berakhir dan berakhir dengan segera demi perdamaian dan stabilitas.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan pentingnya partisipasi negara-negara Arab dalam konferensi tersebut. “Yang penting tentang pertemuan ini adalah bahwa ini adalah pertemuan terbuka dengan perwakilan dari negara-negara Arab terkemuka yang duduk bersama dengan Israel untuk memajukan kepentingan bersama melawan Iran, dan pertemuan ini bukan rahasia, karena ada banyak dari mereka yang hadir.”

Iran gusar dengan Konferensi Warsawa 2019. Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, Selasa, 12 Februari 2019, menuduh AS menekan negara-negara lain untuk menghadiri Konferensi Warsawa 2019. “Mereka menggunakan uang, pengaruh, dan kekuatan militer Amerika Serikat.”

“Mereka menggunakan pengaruh yang mereka miliki di berbagai negara untuk menarik lebih banyak orang ke konferensi itu, dan banyak orang yang pergi ke pertemuan itu telah mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak punya pilihan lain,” kata Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, Selasa, 12 Februari 2019.

Konferensi Warsawa 2019, ditindaklanjuti dengan normalisasi hubungan diplomatic Israel dengan nega-negara Arab sebagai sekutu Amerika Serikat, melalui penandatanganan Dokumen Abraham Accords di Washington, 15 September 2020.

Persetujuan Abraham yang asli ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada tanggal 15 September 2020, di Halaman Selatan Gedung Putih di Washington, DC Perjanjian tersebut dinegosiasikan oleh Jared Kushner dan Avi Berkowitz.

Perjanjian dengan UEA secara resmi diberi judul Perjanjian Perdamaian Kesepakatan Abraham: Perjanjian Perdamaian, Hubungan Diplomatik, dan Normalisasi Penuh Antara Uni Emirat Arab dan Negara Israel.

Perjanjian antara Bahrain dan Israel secara resmi diberi judul Abraham Accords: Declaration of Peace, Cooperation, dan Constructif Diplomatic and Friendly Relations, dan diumumkan oleh Amerika Serikat pada 11 September 2020.

Perjanjian Abraham dinamai untuk menekankan keyakinan bersama pada Nabi Ibrahim dalam Yudaisme dan Islam.

Perjanjian dinegosiasikan Jared Kushner dan Avi Berkowitz. Pada tanggal 1 Maret 2021, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, memuji Konferensi Warsawa 2019 yang memberikan terobosan yang membuka jalan.

Tujuan dari konferensi dua hari itu adalah untuk fokus melawan Iran, meskipun negara tuan rumah mencoba untuk mengecilkan tema itu dan pernyataan penutup Polandia – Amerika Serikat, tidak menyebutkan Iran.

Di antara perwakilan dari 70 negara yang hadir adalah sejumlah pejabat Arab, menciptakan situasi pertama sejak Konferensi Perdamaian Madrid pada tahun 1991 di mana seorang pemimpin Israel dan pejabat senior Arab semuanya hadir pada konferensi internasional yang sama yang berfokus pada Timur Tengah.

Konferensi Madrid pada saat itu mengatur panggung untuk Kesepakatan Oslo. Di antara mereka yang ditemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi bin Abdullah yang negaranya telah dia kunjungi pada Oktober 2018.

Secara umum, Abraham Accords, pengukuhan normalisasi hubungan Israel dengan negara Arab, sebagai berikut, pembukaan hubungan diplomatik Mesir – Israel (1970), Turki – Israel (1950), Yordania – Israel (26 Oktober 1994), Uni Emirat Arab – Israel (15 September 2020), Bahrain – Israel (15 September 2020), Sudan – Israel (26 September 2020), Oman – Israel (3 November 2020), Maroco – Israel (10 Desember 2020), Bahrain  – Israel (21 Maret 2021), Arab Saudi – Israel (31 April 2021).

“Indonesia tidak bisa hanya menghimbau dan mengecam, tapi terlibat dalam pembicaraan langsung. Pembicaraan langsung bisa dilakukan, jika Indonesia membuka hubungan diplomatic dengan Israel. Tanpa itu, Indonesia tidak akan mampu terlibat terlalu jauh dalam misi perdamaian sehubungan status Yerusalem,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

sumber:bergelora.com


comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Begini Perasaan Menkumham Yasonna Laoly, Ditinggal Isteri Tercinta
  • Tingkatkan Kewaspadaan, Kim Jong-un Minta Korea Utara Tingkatkan Kekuatan Militer
  • Live Di I News Tv, Bupati Kampar Beberkan Fakta di Balik Viralnya 3 Anak SD Nyebrang Sungai
  • Berikut Lokasi Bus Vaksinasi Keliling Hari Ini di Kota Pekanbaru
  • Panglima TNI dan Kapolri Rangkul Tokoh Agama Untuk Tekan Covid-19 di Bangkalan
  • Gubri: Semangat Ditingkatkan Dengan Latihan Maksimal
  • Hai Petani Sawit Bentuk Kelompok, Ini Manfaatnya
  • Viral Isu Pemerintah Kenakan Pajak Sembako, Ini Jawaban Sri Mulyani
  • Komisi II DPRD Jawa Barat Terima Audiensi BPSK
  •  
     
     
    Jumat, 19 Maret 2021 - 13:41:05 WIB
    Lina Ruzhan Dukung Digitalisasi Sekolah
    Selasa, 06 Oktober 2020 - 22:31:45 WIB
    Demo Tolak Omnibus Law Ciptaker di Bandung Ricuh, Ini Kronologinya
    Selasa, 07 Juli 2020 - 12:59:36 WIB
    Babinsa Koramil 07/Alasa Ajak Masyarakat Patuhi Protokoler Kesehatan
    Kamis, 11 Februari 2021 - 18:48:17 WIB
    Polres Siak Tangkap 4 Pengedar Sabu di Kecamatan Sungai Apit
    Senin, 30 November 2020 - 12:15:16 WIB
    Pemprov Jabar Sabet Bhumandala Rajata
    Jumat, 25 September 2020 - 00:19:32 WIB
    Ini Nomor Urut Tiga Pasangan Calon Peserta Pilkada Kuansing 2020
    Sabtu, 21 November 2020 - 09:49:18 WIB
    Jelang Ashar, Bareskrim Polri Masih Minta Keterangan Ridwan Kamil
    Senin, 22 Juni 2020 - 19:50:26 WIB
    PROGRAMA RIAU HIJAU
    Perhutanan Sosial Masih Rendah, Gubri Minta OPD Kejar Persoalan Lingkungan Dan Hutan
    Rabu, 13 Januari 2021 - 21:19:20 WIB
    Laporan Pansus Pengawasan dan Penanganan Covid-19 DPRD Bengkalis
    Rabu, 11 Maret 2020 - 08:31:27 WIB
    DPD RI RIAU DR. MISHARTI SAg, M.Si
    Cegah Penyebaran Corono, Misharti Minta Pemerintah Perkuat Pengawasan Arus Masuk dari Luar Negeri
    Rabu, 30 September 2020 - 21:02:41 WIB
    Menlu Retno Tekankan Dukungan Indonesia bagi Palestina
    Selasa, 30 Maret 2021 - 08:30:46 WIB
    Bupati Sukiman: Capaian Kinerja 2020 Cukup Baik
    Selasa, 01 Juni 2021 - 20:33:13 WIB
    Lawan Covid-19
    Ditaja FPK Riau, Hari Pertama Vaksin Massal Di Mall SKA, Sukses Vaksin 2.020 Orang
    Rabu, 11 Maret 2020 - 08:57:28 WIB
    KEMBALINYA KERIS DIPONEGORO KE INDONESIA
    Jokowi Terima Keris Diponegoro dari Raja dan Ratu Belanda
    Kamis, 14 Januari 2021 - 16:14:19 WIB
    Forkopimda Jabar Tebar Benih Ikan Lele, Nila, dan Patin Serta Menanam Pohon di Bojongsoang
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Indeks Berita
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer
    Copyright © 2020 PT. Tiras Kita Pers, All Rights Reserved